Kuliner Enrekang memiliki cita rasa khas karena memanfaatkan bahan-bahan alami dan endemik yang tumbuh subur di dataran tinggi Massenrempulu.
Sering disebut "kejunya Indonesia". Terbuat dari fermentasi susu sapi/kerbau dengan getah daun pepaya (enzim papain) alami, bukan rennet buatan. Bentuknya setengah bulat, dibungkus daun pisang. Rasanya gurih, sedikit asin dengan tekstur kenyal mirip mozzarella. Bisa dimakan langsung, digoreng, dibakar, atau lauk dengan nasi dan sambal.
Hidangan berkuah berbahan dasar daging (iga sapi/kerbau) yang dimasak dengan bumbu rempah khas menggunakan daun cemba (Acacia pennata), tanaman endemik berduri hanya tumbuh di Enrekang. Kuahnya kental, gurih, berempah dengan sentuhan rasa asam alami yang unik dan menyegarkan. Disajikan panas-panas bersama nasi putih atau Sokko (ketan).
Hidangan nasi ketan dibuat dari beras ketan langka bernama Pulu' Mandoti yang hanya bisa tumbuh optimal di Desa Salukanan, Kecamatan Baraka, Enrekang. Beras ini memiliki warna kemerahan/keunguan dengan aroma wangi yang tercium dari jarak jauh saat dimasak. Teksturnya pulen dan lengket dengan aroma wangi pandan dan rempah alami yang kuat.
Kuliner Enrekang sudah diturunkan resepnya dari generasi ke generasi. Setiap makanan punya cerita dan makna budaya yang dalam. Dangke khususnya telah menjadi makanan legendaris yang dibawa wisatawan sebagai oleh-oleh khas Enrekang.