Bumi Massenrempulu memiliki kekayaan sejarah luar biasa dari istana, makam, hingga benteng pertahanan.
Pusat pemerintahan tradisional Kerajaan Buntu Batu yang menjadi kediaman resmi Arung (Raja) dengan arsitektur rumah panggung kayu khas Sulawesi Selatan dan ukiran tradisional Massenrempulu.
Monumen penghormatan bagi Puang Curio, pemimpin kharismatik di Kecamatan Curio yang menjadi simbol kewibawaan dan penjaga nilai adat di wilayah setempat.
Terletak di Kampung Telaga, Kota Enrekang (550 mdpl) seluas ±4.276 m² dengan 133 makam berbahan batu cadas dan kapur dengan nisan berhias kaligrafi Arab, motif bunga, daun, dan pola tikar. Tempat istirahat Raja Enrekang Pertama yang memeluk Islam dan Pancaitana Bunga WaliE (Arung Enrekang XII), pahlawan wanita yang memimpin perlawanan terhadap Belanda (1905-1906).
Berlokasi di Kampung Leorang dengan nisan berbentuk Tumpal (meruncing di atas) yang dihiasi bunga dan kaligrafi Arab yang sangat indah.
Situs makam gantung di tebing batu Desa Tontonan, Kecamatan Anggeraja yang menggunakan peti kayu kuno bernama Erong dengan berbagai bentuk (perahu, kerbau, babi) yang menunjukkan strata sosial masyarakat pra-Islam.
Dibangun atas prakarsa Pancaitana Bunga WaliE di Kampung Batili, Desa Galonta (3 km selatan Kota Enrekang) pada Oktober 1905. Dipertahankan mati-matian oleh pasukan Massenrempulu di bawah pimpinan Madika Bintang dengan dukungan Nenek Cappuda dan Nene Bonne.
Berlokasi di Dusun Kallupini, Desa Ranga (11 km timur Kota Enrekang) di tengah hutan jati yang sulit dijangkau. Berfungsi sebagai pusat peradaban, penyebaran Islam tertua, dan benteng pertahanan dari serangan Belanda.
Didirikan tahun 1905 di Dusun Tembang, Desa Buntu Batu (18 km barat Kota Enrekang) untuk mempertahankan Bumi Massenrempulu, dipimpin oleh Lapassulu Uwa' Bussara. Medan akses harus menyeberangi Sungai Sa'dang dan menyusuri Gunung Buntu Batu sepanjang 5 km.
Cagar budaya Kabupaten Enrekang menunjukkan tiga aspek peradaban: Kedaulatan (melalui Saoraja dan sistem pemerintahan Arung), Religiusitas (akulturasi budaya nisan makam dan pengaruh Islam), dan Heroisme (jaringan benteng pertahanan yang membuktikan keberanian melawan penjajahan).