Masyarakat Enrekang sangat memegang teguh filosofi Tobana (Tolong Menolong, Bantu Membantu, Nasehat Menasihati) dan penghormatan terhadap alam serta leluhur.
Upacara adat sakral dan perayaan agung yang rutin dilaksanakan masyarakat adat Enrekang, khususnya di kawasan Kaluppini. Dilaksanakan satu kali dalam sewindu (delapan tahun sekali). Maccera = menyucikan/memberikan persembahan (pemotongan hewan kurban), Manurung = leluhur/sosok pertama yang turun dari langit.
Bentuk rasa syukur mendalam kepada Sang Pencipta atas hasil panen melimpah, keselamatan desa, sekaligus momen menyucikan pusaka-pusaka peninggalan leluhur yang sangat dihormati.
Masyarakat memotong hewan ternak, melaksanakan doa bersama, makan bersama, dan menampilkan kesenian adat sakral seperti Tari Pa'jaga. Juga menjadi ajang silaturahmi besar-besaran bagi seluruh warga yang merantau untuk kembali ke kampung halaman.
Gotong royong bukan sekadar kegiatan, melainkan nafas kehidupan bermasyarakat di Massenrempulu. Di Enrekang dibingkai dalam filosofi Sipatanggarri (saling menasihati dan mengingatkan dalam kebaikan) dan Mesa Kada Dipotuo, Pantan Kada Dipomate (bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh).
Sangat jelas pada aktivitas bertani. Mulai dari menggarap sawah, menanam padi, hingga masa panen, warga saling membantu secara bergantian di ladang tetangga tanpa mengharapkan bayaran uang. Semangat ini terbangun dari rasa persaudaraan yang kuat.
Gotong royong juga diwujudkan saat ada warga membangun rumah panggung tradisional, memindahkan rumah (Ma'sura), atau membersihkan jalanan dan saluran air desa. Semangat ini menumbuhkan rasa empati, persaudaraan, dan kepedulian kuat di kalangan warga.
Adat istiadat Enrekang berakar dari kepercayaan nenek moyang yang mengajarkan pentingnya menghormati leluhur, menjaga keharmonisan, dan berbagi dengan sesama. Adat ini tetap dijaga dan dihormati hingga sekarang oleh masyarakat Enrekang yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisional.